Intercounbix Indonesia

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Biaya Yang Dikeluarkan Dalam Mengumpulkan Bukti Audit

Dua tipe bukti yang paling mahal untuk mendapatkannya adalah pemeriksaan fisik dan konfirmasi. Pemeriksaan fisik menjadi mahal karena biasanya membutuhkan kehadiran auditor pada saat klien melakukan penghitungan aset yang seringkali dilakukan pada akhir tahun buku.

Sebagai contoh, pemeriksaan fisik persediaan kadang-kadang meng-haruskan auditor untuk bepergian ke berbagai kota atau tempat, apalagi jika klien beroperasi di hampir seluruh wilayah negara. Konfirmasi menjadi mahal karena auditor harus mengikuti prosedur dengan teliti sejak dari penyiapan konfirmasi, pengiriman melalui surat atau secara elektronik, penerimaan jawaban, dan melakukan tindaklanjut atas konfirmasi yang tidak memberi jawaban, atau jawaban yang menunjukkan selisih.

Inspeksi, prosedur analitis, dan pelaksanaan ulang tidak begitu mahal. Apabila personil klien menyiapkan dokumen dan data elektronik untuk kepentingan auditor dengan rapi dan teratur, inspeksi biasanya sangat murah. Namun, apabila auditor harus mencari sendiri dokumen yang diperlukan, biayanya bisa cukup mahal. Bahkan dalam situasi yang ideal sekalipun, informasi dan data dalam dokumen kadang-kadang sangat kompleks, dan membutukan interpretasi serta analisis. Biasanya auditor membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membaca dan mengevaluasi kontrak-kontrak yang dibuat klien, perjanjian beli-sewa, serta notulen rapat-rapat Dewan Komisaris. Mengingat bahwa prosedur analitis tidak begitu mahal dibandingkan dengan konfirmasi dan pemerik-saan fisik, banyak auditor cenderung mengganti pengujian detil dengan prosedur analitis, sepanjang dimungkinkan. Sebagai contoh, akan jauh lebih murah menghitung rasio antara penjualan dengan piutang usaha albandingkan dengan melakukan konfirmasi alas piutang usaha. Apabila dimungkinkan untuk mengganti konfirmasi dengan prosedur analitis, maka auditor bisa menghemat biaya audit dalam jumlah yang cukup signifikan.

Namun penggunaan prosedur analitis menuntut auditor untuk menentukan prosedur analitis macam apa yang akan digunakan, membuat perhitung-an, dan mengevaluasi hasilnya. Melakukan hal-hal tersebut seringkali memakan waktu. Biaya untuk melakukan pengujian dengan mengerjakan lang tergantung pada prosedur apa yang akan diul. Pengulian pervatur cingan sederhana seperti mengerjakan uang parbandingan antara faktur cengan datar harga biasanya hanya memakan waktu tidak lama. Namun, mengeriakan lang prosedur seperti rekonsiliasi bank akan memakan waktu yang cukup lama.

Tipe bukti yang murah biayanya adalah observasi, mengajukan pertanyaan kepada klien, dan rekalkulasi. Observasi biasanya dilakukan secara bersamaan dengan prosedur lain. Auditor akan dengan mudah mengobservasi apakah pegawai klien menaati prosedur perhitungan persediaan dan pada saat yang sama melakukan perhitungan atas suatu sampel persediaan (pemeriksaan fisik). Pengajuan pertanyaan kepada klien dilakukan sangat sering sepanjang audit berlangsung dan biasanya murah biayanya, walaupun untuk pengajuan pertanyaan tertentu bisa juga mahal, seperti misalnya minta pernyataan tertulis dari klien. Rekalkulasi biasanya murah karena hanya menyangkut perhitungan-perhitungan sederhana dan penelusurannya dapat dilakukan dengan mudah pula.

Seringkali auditor menggunakan perangkat lunak komputer untuk melakukan pengujian-pengujian tersebut.

*Disclaimer*

Sumber: Jusup, Al. Haryono. Auditing Edisi II (Pengauditan Berbasis ISA).

Recent Posts

Mengenal Lebih Dalam Terkait Barang Lartas

IBX-Jakarta. Dalam ketentuan terkait Bea dan Cukai di Indonesia terdapat sebuah istilah yang disebut sebagai Barang Lartas (barang pelarangan dan pembatasan). Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 161/PMK.04/2007 jo PMK 141/PMK.04/2020 tentang Pengawasan Terhadap Impor atau Ekspor Barang Larangan dan/atau Pembatasan, menjelaskan bahwa barang lartas adalah barang yang dilarang dan/atau dibatasi pemasukannya

Read More »

Perusahaan Harus Memberikan Perlindungan Bagi Karyawan!

IBX-Jakarta. Sama seperti halnya konsumen, kedudukan pekerja (karyawan) pada umumnya juga lemah di mata perusahaan. Pengalaman menunjukkan hal ini. Oleh karena itu, perlindungan tenaga kerja sudah memperoleh perhatian dunia sejak lama. Asas yang seharusya dipakai dalam hubungan ketenagakerjaan adalah asas manfaat, keadilan, kewajaran, integritas, dan iktikad baik. Asas manfaat dapat juga dinterpretasikan sebagai sesuatu yang saling menguntungkan dalam hubungan ketenagakerjaan.

Read More »