Intercounbix Indonesia

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Liabilitas Kontinjensi Dalam PSAK 57

Berdasarkan PSAK 57, liabilitas kontinjensi adalah:

  • kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas; atau
  • kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui:
  • tidak terdapat kemungkinan besar entitas mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis (selanjutnya disebut sebagai “sumber daya”) untuk menyelesaikan kewajibannya; atau
  •  jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.

Entitas tidak diperkenankan mengakui kewajiban kontinjensi alih-alih kewajiban kontinjensi harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Sebagai contoh, sebuah perusahaan mungkin kalah atas gugatan penggunaan hak paten perusahaan lain. Akan tetapi, putusan ini sedang dalam proses banding dan pengacara perusahaan merasa bahwa keputusan akan terbalik atau berkurang secara signifikan. Dalam hal ini, liabilitas kontinjensi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

Tingkat terjadinya liabilitas kontinjensi bisa saja sangat kecil yang berarti bahwa kemungkinan adanya pengeluaran sumber daya yang menghasilkan manfaat ekonomi adalah sangat kecil. Dalam hal ini, liabilitas kontinjensi tidak perlu diakui dan diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Sebagai contoh, sebuah resor ski dituntut atas adanya keelakaan yang dialami oleh pengunjung. Dalam kebanyakan kasus, pengadilan menemukan bahwa pengunjung bisa menerima risiko terjadinya kecelakaan pada saat melakukan egiatan. Jadi, resor ski tidak memiliki kewajiban atas terjadinya kecelakaan, kecuali resor ski memang benar-benar tidak bertanggung jawab. Dalam kasus seperti ini pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperlukan.

Liabilitas kontinjensi dikaji terus-menerus untuk menentukan apakah tingkat kemungkinan arus keluar sumber daya bertambah sehingga menjadi kemungkinan besar (probable). Jika timbul kemungkinan besar bahwa diperlukan arus keluar sumber daya, maka entitas mengakui liabilitas diestimasi dalam laporan keuangan pada periode saat perubahan menjadi kemungkinan besar tersebut terjadi.

Pertimbangan profesional sangat diperlukan dalam membedakan beberapa kelompok liabilitas kontinjensi. Pertimbangan profesional sangat diperlukan guna membedakan antara liabilitas kontinjensi yang sangat mungkin terjadi (probable) dan liabilitas yang mungkin terjadi (possible).

*Disclaimer*

Sumber : Warren, (Pengantar Akuntansi 2 Adaptasi Indonesia Edisi 4 ) Penerbit Salemba Empat

Recent Posts

Insentif Pajak IKN Pada PMK No.28/2024

IBX-Jakarta. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.28/2024 mengenai Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan di Ibu Kota Nusantara telah resmi dirilis oleh Kementerian Keuangan. PMK No.28/2024 diresmikan guna melaksanakan PP No.12/2023 tentang Pemberian Perizinan Berusaha, Kemudahan Berusaha, dan Fasilitas Penanaman Modal bagi Pelaku Usaha di Ibu Kota Nusantara. Pada Pasal 2 PMK No.28/2024

Read More »

Penerapan Pillar 2, DJP Kaji Kembali Ketentuan Insentif

IBX-Jakarta. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melakukan evaluasi atas kebijakan insentif yang diberikan kepada pelaku usaha. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan insentif yang diberikan tepat sasaran dan sejalan dengan ketentuan pajak minimum global yaitu 15% yang tercantum dalam Pilar 2 Global Antu Base Erosion (GloBE). Menurut Suryo Utomo selaku Dirjen Pajak

Read More »