Intercounbix Indonesia

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Mengenal Arti Kepemimpinan dalam Konteks Bisnis

Oleh: Affin Jaffar Umarovic

Sejumlah teori tentang kepemimpinan mengandung banyak definisi dari istilah dalam konteks bisnis. Akan tetapi, sebagian besar  beranggapan bahwa kepemimpinan harus dilakukan dengan individu yang secara sengaja mengerahkan pengaruh pada orang lain untuk menyelaraskan hubungan dalam suatu organisasi.  Kepemimpinan berkaitan dengan bagaimana pengaruh yang diberikan dan hasil dari upaya tersebut.

Pemimpin Pertama

Pemimpin prototipe dalam konteks bisnis adalah pengusaha yang mendirikan perusahaan. Orang tersebut akan memiliki pengaruh yang kuat sejak awal. Mengingat bahwa misi perusahaan dan konteks lingkungan di mana ia beroperasi ditentukan oleh pengusaha yang mendirikan perusahaan. Namun, pada saat perusahaan tumbuh, budaya perusahaan yang mengambil pengaruh. Peningkatan ukuran perusahaan untuk menjadi perusahaan sukses dan desentralisasi dapat mengakibatkan adanya reduksi kekuatan dan pengaruh yang diberikan oleh orang pengganti pemimpin. Tim manajemen mungkin tidak menyadari bahwa perlu adanya perubahan ketika perusahaan mengalami kemunduran dan malah lebih memilih untuk mempertahankan hal monoton serta menyalahkan lingkungan untuk perubahan dalam kekayaannya. Dalam sejarah baru-baru ini, revolusi industri lah yang melahirkan pendiri/ pemimpin serta studi tentang organisasi. Bagian selanjutnya akan memberikan penjelasan singkat tentang perkembangan teori organisasi dengan penekanan pada peran pemimpin/ manajer

Teori yang berkembang di sekitar pemimpin

Penelitian tentang organisasi dan pengambil keputusan awalnya berfokus pada sistem kerja organisasi. Fokus perhatian baru dari revolusi industri diantaranya munculnya teori proses produksi, peningkatan spesialisasi, dan pembagian kerja. Lantas apa cara terbaik bagi seorang pemimpin untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cara yang paling efisien?  Jawabannya adalah pada pengembangan teori dengan prinsip kepemimpinan ilmiah, di mana pertanyaan-pertanyaan mengenai perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian karyawan dilakukan dengan cara ilmiah.

Organisasi birokrasi adalah produk akhir dari pendekatan ini untuk mengelola proses produksi, khususnya sebagai tanggapan terhadap perusahaan yang jauh lebih besar. Dalam birokrasi semacam itu pemimpin memimpin hierarki otoritas yang dirancang dengan cermat di mana tanggung jawab ditentukan dengan jelas.

Stogdill (1974), mengkaji studi tentang atribut pemimpin dan membuat daftar karakteristik pemimpin yang sukses dari berbagai negara yang diantaranya

  1. Pemimpin memiliki kecerdasan tinggi
  2. Pemimpin memiliki kemampuan verbal yang cukup
  3. Pemimpin memiliki keseluruhan pengetahuan
  4. Pemimpin memiliki  inisiatif yang dapat dijalankan yang melibatkan energi, ambisi, dan ketekunan
  5. Pemimpin memiliki kekuatan menyiratkan otoritas

 

Peran Penting dalam organisasi pembelajaran

Konsep organisasi pembelajaran adalah salah satu hal yang digembur-gemburkan oleh teori Z. Pada saat yang sama, konsep ini merupakan respon terhadap peningkatan ketidakpastian dan kompleksitas bisnis global. Peter Senge, salah satu arsitek konsep tersebut. Peter melihat bahwa pembelajaran atau tingkat pembelajaran dapat membuat organisasi memiliki keuntungan yang besar dan berkelanjutan di dunia di mana persaingan menjadi semakin kuat

Tugas utama seorang pemimpin dalam organisasi semacam itu adalah untuk membawa perubahan pikiran yang mendasar di antara para anggotanya. Dengan artian, pemimpin melibatkan perancangan pembelajaran, menciptakan, membina, mengelola visi bersama, dan membantu orang untuk memahami apa yang membawa perubahan.

Atribut Universal dan Variabel Budaya

Pertanyaan tentang universalitas perilaku pemimpin adalah salah satu dari sejumlah masalah yang ditangani dalam Penelitian Kepemimpinan Global dan Perilaku Organisasi (GLOBE). Penelitian tersebut telah menetapkan sebanyak enam dimensi kepemimpinan global yang yang dapat mempengaruhi kepemimpinan yang efektif bagi para pemimpin. Berikut merupakan keenam dimensi tersebut:

  1. Charismatic / Value-Based Leadership
  2. Team – Oriented Leadership
  3. Participative Leadership
  4. Humane – Oriented Leadership
  5. Autonomous Leadership
  6. Self-Protective Leadership

Dari keenam dimensi tersebut, menurut temuan proyek laporan Brodbeck et al., (2008) diungkapkan bahwa sebagian besar karakteristik kepemimpinan berbasis karismatik dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan kepemimpinan. Sedangkan, kepemimpinan yang berbasis nilai dan kepemimpinan yang berorientasi tim dipandang berkontribusi positif terhadap kemimpinan dalam masyarakat dan kelompok di seluruh dunia.

Meskipun demikian, kepemimpinan partisipatif tidak selalu berkontribusi pada kepemimpinan yang efektif di seluruh budaya dan kelompok yang dipelajari. Lebih lanjut, Brodbeck et al., (2008) mendeteksi empat jenis yang berbeda, atau adanya spesiesi dari segi khusus kepemimpinan partisipatif ini:

  1. Sebagai oposisi terhadap kemimpinan non-partisipatif, otokritik, atau direktif. Contoh: Finlandia, Argentina, Prancis.
  2. Sebagai prinsip hukum untuk mengatur interaksi di tempat kerja antara tenaga kerja dan modul (atau manajemen) yang dimanifestasikan dalam praktik dan nilai budaya dan budaya organisasi. Contoh: Austria dan negara Jermanik lainnya.
  3. Sebagai seperangkat karakteristik pribadi dalam kepemimpinan Amerika Utara modern yang melakukan itu, misalnuya dalam memperlakukan orang lain sebagai sederajat, bersikap informal dan tidak sibuk dengan diri sendiri. Contoh: Amerika Serikat.
  4. Sebagai seperangkat perilaku komunikasi seperti mendengarkan dan mengundang saran dari orang lain yang selaras dengan kebencian budaya masyarakat terhadap aturan formal dan preferensi untuk pertukaran terbuka. Contoh: Yunani.

 

Begitu pula dengan kepemimpinan berorientasi manusia, meskipun seringkali pola kepemimpinan tersebut memiliki dampak pada kepemimpinan yang efektif dan bervariasi dari sangat positif hingga netral. Namun, Brodbeck et al., (2008) juga menemukan sejumlah “spesiesi” dari segi khusus kepemimpinan berorientasi manusia atas dasar spesifikasi spesifik negara dari proyek GLOBE, yakni:

  1. Sebagai serangkaian nilai dan perilaku yang mendukung keseimbangan batin, egalitarianisme dan tidak menyinggung status seseorang sebagai seorang pemimpin. Contoh: Beberapa negara Anglo.
  2. Sebagai perilaku interpersonal yang ramah, terbuka, dan dermawan pada saat krisis yang langsung dan jelas, penuh asih, atau agresif. Contoh: Selandia Baru (krisis yang langsung dan jelas), Amerika Serikat (penuh asih), dan Australia (agresif).
  3. Sebagai prinsip moderasi Konfusianisme dan memelihara hubungan sosial yang harmonis. Contoh: Cina dan sebagian di Singapura.
  4. Sebagai prinsip tradisional kemanusiaan yang mengulang iman dan kepercayaan di dalam pengikut, memberi mereka kebebasan, dan menjaga kesejahteraan pribadi mereka. Contoh: India.

 

**Disclaimer**

Recent Posts

Indonesia-Australia Kerja Sama Deteksi Potensi Pajak Kripto

Indonesia dan Australia sepakat untuk bekerja sama dalam pertukaran informasi aset kripto (cryptocurrency) untuk keperluan perpajakan. Kesepakatan tersebut tercantum dalam memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Australian Taxation Office (ATO) di Kedutaan Australia Jakarta. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan deteksi aset kripto yang memiliki kewajiban

Read More »