Intercounbix

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

OECD Rilis Konvensi Multilateral soal Pajak Global, Ada Potensi US$200 Miliar

IBX-Jakarta. OECD atau Organisation for Economic Co-operation and Development secara resmi meluncurkan naskah terbaru konvensi multilateral (Multilateral Convention/MLC). Naskah tersebut sebagai bekal untuk menerapkan amount A dalam Pilar I pajak global untuk mengoordinasikan realokasi hak pemajakan ke yurisdiksi pasar, meningkatkan kepastian perpajakan, dan menghapuskan pajak layanan digital. Melansir dari laman resmi OECD, Kamis (12/10/2023), penerbitan konvensi ini membawa komunitas internasional selangkah lebih dekat ke arah finalisasi Solusi Dua Pilar untuk mengatasi tantangan pajak yang timbul dari digitalisasi dan globalisasi ekonomi. Adapun, MLC teranyar ini mencerminkan konsensus yang telah dicapai di antara para anggota Kerangka Kerja Inklusif. Amount A dari Pilar I mengkoordinasikan realokasi hak pemajakan ke yurisdiksi pasar sehubungan dengan bagian keuntungan dari perusahaan multinasional terbesar dan paling menguntungkan yang beroperasi di pasar mereka, terlepas dari kehadiran fisik mereka.

“Komunitas internasional telah bekerja sama dengan erat untuk menyelesaikan isu-isu teknis yang tersisa di balik kesepakatan penting mereka untuk mereformasi perpajakan internasional,” ujar Cormann. Di bawah Pilar Pertama, OECD melihat adanya potensi tambahan penerimaan pajak secara total di global senilai US$200 miliar setiap tahunnya yang bisa dialihkan ke negara pasar. Potensi kenaikan pajak secara global per tahun tercatat rata-rata di kisaran US$17 miliar—US$23 miliar. Dalam analisis termutakhir dari OECD, menemukan bahwa negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah diperkirakan akan mendapatkan keuntungan paling besar. Tidak serta merta, hanya perusahaan yang memenuhi aturan Nexus yang akan dipatok pajaknya.MLC ini juga memastikan pencabutan dan mencegah proliferasi pajak layanan digital dan langkah-langkah serupa yang relevan, mengamankan mekanisme untuk menghindari pajak berganda, dan meningkatkan stabilitas dan kepastian dalam sistem pajak internasional. MLC juga akan disampaikan kepada para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 dalam Laporan Pajak Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann yang baru menjelang pertemuan di sela-sela IMF-World Bank Annual Meeting 2023 di Maroko, 10 – 15 Oktober 2023.
Untuk Indonesia, sesuai dengan konsensus OECD, sepanjang perusahaan tidak memenuhi batas Nexus, yakni penghasilan 1 juta euro per tahun, maka pemerintah tidak akan mendapatkan distribusi pajak atau kehilangan basis pajak. Dengan kata lain, harus ada perusahaan di Indonesia yang memiliki penghasilan 1 juta euro per tahun untuk dapat dikenakan pajak tersebut. Jika tidak ada, artinya tidak akan ada penambahan ke kantong kas negara. Dengan demikian, seluruh negara termasuk Indonesia sudah bisa melakukan ratifikasi atas skema tersebut.
Sebelumnya, Indonesia telah bersiap untuk menerapkan Pilar I Pajak Global, namun masih menunggu kesepakatan dari MLC dari OECD. Seperti diketahui, Indonesia sendiri telah memiliki Undang-undang (UU) Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) yang memungkinkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, untuk mengatur pajak dari digitalisasi serta global minimum tax berdasarkan kesepakatan internasional.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20231012/620/1703544/oecd-rilis-konvensi-multilateral-soal-pajak-global-ada-potensi-us200-miliar.*Disclaimer*

Recent Posts

Implikasi PMK Nomor 44 Tahun 2026 terhadap Karyawan Perusahan

IBX – Jakarta. Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 44/2026 yang mencabut PMK 229/2014, Kementerian Keuangan membatasi kategori kuasa Wajib Pajak menjadi Konsultan Pajak, Keluarga, dan Pihak Lain, di mana karyawan internal kini terklasifikasi sebagai Pihak Lain yang wajib memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT) khusus kuasa untuk dapat mewakili perusahaan dalam

Read More »

Benarkah Pajak E-Commerce Baru Dipungut 2027? Ini Kata Purbaya

Pemerintah kembali menunda penerapan kebijakan pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 bagi pedagang online melalui platform e-commerce. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kebijakan tersebut baru akan diterapkan pada tahun depan, dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian Indonesia. Kebijakan yang mengatur penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh Pasal 22 tersebut sebelumnya dijadwalkan mulai

Read More »

Rencana Pajak Perhiasaan Berat Tertentu untuk Meminimalisir Praktik Penghindaran Bea Keluar Emas

IBX – Jakarta. Pemerintah mengungkap, bahwa terdapat praktik penghindaran pajak dalam skema ekspor emas dalam bentuk perhiasan. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sedang memperketat Peraturan Menteri Keuangan terkait agar menutup celah yang dimanfaatkan melalui mengubah bentuk ekspor emas menjadi perhiasan Perubahan tersebut direncanakan melalui skema pengenaan pajak untuk perhiasaan dengan

Read More »