Intercounbix Indonesia

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Pengakuan Laporan Keuangan Menurut IASB

Oleh : M. Akmal Murtadho

Bagian penting dari penyusunan laporan keuangan adalah kapan suatu aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan, dan beban diakui dan dicatat dalam pembukuan. Prinsip pengakuan ini menjadi sangat penting karena laporan keuangan harus dibuat secara berkala yang melibatkan saat dan periode tertentu. Oleh karena itu, kelengkapan (completeness), keakuratan (accuracy), dan ketepatan waktu (timelines) yang merupakan bagian dari asersi manajemen menjadi elemen penting dari pengakuan.

Pengakuan (recognition) terhadap elemen laporan keuangan, menurut IASB Framework (2001) didasarkan atas kriteria berikut.

1. Probabilitas bahwa setiap manfaat ekonomi pada masa mendatang yang terkait dengan suatu transaksi, kejadian, atau peristiwa (aset, liabilitas, pendapatan, dan beban) akan mengalir ke atau dari entitas.

2. Transaksi, kejadian, atau peristiwa yang bersangkutan mempunyai biaya (cost) atau nilai (value) yang dapat diukur secara andal (reliably).

Kata “probabilitas” dalam kriteria tersebut mengacu pada ketidakpastian (uncertainty). Tidak ada pedoman yang pasti untuk mengukur probabilitas ini. Konsep probabilitas yang digunakan sebagai kriteria pengakuan merujuk pada tingkat ketidakpastian arus masuk atau arus keluar dari manfaat ekonomi yang akan diperoleh atau dikorbankan pada masa mendatang.

Kriteria edua adalah keandalan (reliability. Taksiran yang wajar (reasonable estimates) merupakan bagian penting dalam penyusunan laporan keuangan. Namun, taksiran yang wajar ini tidak boleh mengalahkan kriteria keandalan. Suatu elemen yang tidak memenuhi kriteria pengakuan, mungkin memerlukan pengungkapan. Dalam kerangka konseptual untuk pelaporan kuangan, konsep “pengakuan” menggunakan pendekatan aset dan liabilitas dibandingkan pendekatan pencocokan pendapatan dan beban (matching revenue and expense). Hal ini terlihat dari penetapan pengakuan pendapatan dan beban. Pendapatan diakui jika penambahan manfaat ekonomi pada masa mendatang yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan liabilitas telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Beban diakui dengan cara sebaliknya.

*Disclaimer*

Sumber: Soemarso S.R (2018). Etika dalam Bisnis & Profesi Akuntan dan Tata Kelola Perusahan.

Recent Posts

Mengenal Lebih Dalam Terkait Barang Lartas

IBX-Jakarta. Dalam ketentuan terkait Bea dan Cukai di Indonesia terdapat sebuah istilah yang disebut sebagai Barang Lartas (barang pelarangan dan pembatasan). Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 161/PMK.04/2007 jo PMK 141/PMK.04/2020 tentang Pengawasan Terhadap Impor atau Ekspor Barang Larangan dan/atau Pembatasan, menjelaskan bahwa barang lartas adalah barang yang dilarang dan/atau dibatasi pemasukannya

Read More »

Perusahaan Harus Memberikan Perlindungan Bagi Karyawan!

IBX-Jakarta. Sama seperti halnya konsumen, kedudukan pekerja (karyawan) pada umumnya juga lemah di mata perusahaan. Pengalaman menunjukkan hal ini. Oleh karena itu, perlindungan tenaga kerja sudah memperoleh perhatian dunia sejak lama. Asas yang seharusya dipakai dalam hubungan ketenagakerjaan adalah asas manfaat, keadilan, kewajaran, integritas, dan iktikad baik. Asas manfaat dapat juga dinterpretasikan sebagai sesuatu yang saling menguntungkan dalam hubungan ketenagakerjaan.

Read More »