Intercounbix Indonesia

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Penghitungan Angsuran PPh Pasal 25 jika terdapat Penghasilan Tidak Teratur

Pertanyaan:

Perkenakan saya Unang ijin bertanya sebagai berikut:

Saya mau menanyakan Perhitungan installment PPh Pasal 25, apakah dari Net Income dikurangi pendapatan tidak teratur dulu atau langsung dikalikan dengan tarif saja? Terima kasih.

Jawaban:

Oleh: Maskudin

Terima kasih Bapak Unang atas pertanyannya.

Pada dasarnya besarnya pembayaran angsuran pajak oleh Wajib Pajak sendiri dalam tahun berjalan sedapat mungkin diupayakan mendekati jumlah pajak yang akan terutang pada akhir tahun. Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan ini dalam hal-hal tertentu Direktur Jenderal Pajak diberikan wewenang untuk menyesuaikan perhitungan besarnya angsuran Pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak dalam tahun berjalan apabila terdapat kompensasi kerugian; Wajib Pajak menerima atau memperoleh penghasilan tidak teratur; atau terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.

Sesuai dengan Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan Pasal 25 ayat 6 huruf b: Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, sebagai berikut:

  1. ….
  2. Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;

Dalam penjelasannya UU HPP memberikan sebuah contoh:

Dalam tahun 2009, penghasilan teratur Wajib Pajak A dari usaha dagang Rp48.000.000,00 (empat puluh delapan juta rupiah) dan penghasilan tidak teratur sebesar Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah). Penghasilan yang dipakai sebagai dasar penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 dari Wajib Pajak A pada tahun 2010 adalah hanya dari penghasilan teratur tersebut.

Berdasarkan hal-hal diatas dalam menghitung angsuran PPh Pasal 25 menurut pendapat kami Penghasilan yang dipakai sebagai dasar penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah hanya dari penghasilan teratur saja.

Demikian pendapat kami semoga mencerahkan dan bermanfaat.

*Disclaimer*

Recent Posts

Memahami Pengertian dan Tujuan Koreksi

IBX-Jakarta. Wajib Pajak (WP) Badan diharuskan melaksanakan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku, termasuk penyampaian laporan keuangan sesuai dengan Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

Read More »

Liabilitas Jangka Pendek

IBX-Jakarta. Utang merupakan kewajiban untuk membayar yang dicatat sebagai liabilitas (liability) oleh debitur. Liabilitas jangka panjang adalah utang dengan periode jatuh tempo lebih dari satu tahun

Read More »