Intercounbix Indonesia

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Potensi Penyalahgunaan Pengembalian Atas Ekuitas (ROE)!

Oleh: M.Akmal Murtadho

Pengembalian atas ekuitas (ROE) merupakan ukuran kinerja yang penting, tetapi kita tahu bahwa manajer harus bekerja keras untuk memaksimalkan kekayaan para pemegang saham.

Jika perusahaan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan ROE, apakah hal ini berarti bahwa kekayaan pemegang saham juga akan meningkat? Jawabannya adalah “belum tentu”. Bahkan terdapat tiga masalah yang mungkin akan muncul jika perusahaan terlalu mengacu pada pengembalian atas ekuitas (ROE) dalam mengukur kinerja perusahaan.

Pertama, ROE tidak mempertimbangkan risiko. Pemegang saham memedulikan

ROE, tetapi mereka juga mempertimbangkan risiko. Sebagai gambaran, terdapat dua divisi di dalam satu perusahaan. Divisi S memiliki arus kas yang stabil dan prediksi ROE sebesar 15 persen. Di lain pihak, Divisi R memiliki ROE yang diharapkan sebesar 16 persen, tetapi arus kasnya cukup berisiko sehingga ROE yang diharapkan bisa jadi tidak material. Jika manajer menerima kompensasi hanya berdasarkan ROE dan ROE yang diharapkan ternyata tercapai selama tahun berikutnya, manajer Divisi R akan menerima bonus yang lebih tinggi dibandingkan manajer S, bahkan meskipun Divisi S ternyata menghasilkan nilai yang lebih tinggi bagi pemegang saham sebagai hasil dari risiko yang Lebih rendah. Sama halnya, leverage keuangan dapat meningkatkan ROE yang diharapkan, retapi semakin besar leverage, semakin tinggi risikonya. Jadi, meningkatkan ROE melalui penggunaan leverage belum tentu baik untuk dilakukan.

Kedua, ROE tidak mempertimbangkan jumlah modal yang diinvestasikan. Sebagai gambaran, pertimbangkan suatu perusahaan yang harus memili di antara dua proyek yang tidak saling terkait. Proyek A membutuhkan investasi sebesar $50.000 dengan ROE yang diharapkan sebesar 50 persen, sementara proyek B memerlukan investasi sebesar $1.000.000 dengan ROE sebesar 45 persen. Kedua proyek tersebut sama-sama berisiko, dan biaya modal perusahaan adalah 10 persen. Proyek A memiliki ROE yang lebih tinggi.

*Disclaimer*

Sumber : Houston&Brigham. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Penerbit Salemba Empat. Jakarta

Recent Posts

Mengenal Lebih Dalam Terkait Barang Lartas

IBX-Jakarta. Dalam ketentuan terkait Bea dan Cukai di Indonesia terdapat sebuah istilah yang disebut sebagai Barang Lartas (barang pelarangan dan pembatasan). Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 161/PMK.04/2007 jo PMK 141/PMK.04/2020 tentang Pengawasan Terhadap Impor atau Ekspor Barang Larangan dan/atau Pembatasan, menjelaskan bahwa barang lartas adalah barang yang dilarang dan/atau dibatasi pemasukannya

Read More »

Perusahaan Harus Memberikan Perlindungan Bagi Karyawan!

IBX-Jakarta. Sama seperti halnya konsumen, kedudukan pekerja (karyawan) pada umumnya juga lemah di mata perusahaan. Pengalaman menunjukkan hal ini. Oleh karena itu, perlindungan tenaga kerja sudah memperoleh perhatian dunia sejak lama. Asas yang seharusya dipakai dalam hubungan ketenagakerjaan adalah asas manfaat, keadilan, kewajaran, integritas, dan iktikad baik. Asas manfaat dapat juga dinterpretasikan sebagai sesuatu yang saling menguntungkan dalam hubungan ketenagakerjaan.

Read More »