Intercounbix

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Waspada ! Laba Abnormal

Oleh : M Akmal Murtadho

Laba abnormal sebagai pemicu keserakahan merupakan konsep yang abstrak dan subjektif. Tidak ada ketentuan yang jelas dan tegas untuk mendefinisikan abnormalitas. Selain aspek pengertian (unsur apa), abnormalitas dapat berkaitan dengan cara memperolehnya (unsur bagaimana), dan bersinggungan dengan dari siapa bagian sumber daya ekonomi yang ingin dialihkan (unsur siapa).

Oleh karena itu, pengendalian diri dalam bidang bisnis berhubungan dengan apa, bagaimana, dan dari siapa laba abnormal diperolch dan diperuntukkan. Etika (bisnis) merupakan alat pengendalian diri dalam berusaha. Oleh karena itu, laba sebagai tujuan usaha, cara melakukan usaha, dan perlakuan terhadap pihak-pihak di luar usaha yang berkepentingan terhadap usaha merupakan hal-hal yang perlu dijelaskan dan ditegaskan kepada semua pihak yang melaksanakan usaha (perusahaan).

Permasalahan tentang “apa” yang disebut laba abnormal berkaitan dengan jumlah, sementara jumlah ditentukan oleh komposisi. Laba secara konsepsi adalah residu dari kegiatan usaha berupa jual beli. Residu ini menjadi hak dari orang yang melakukan usaha tersebut. Laba adalah selisih antara pendapatan dan beban. Pertanyaannya, apakah penentuan pendapatan dan beban telah dilakukan dengan tepat sesuai kenyataan? Jika jawabannya “ya”, jumlah yang tercatat sebagai laba tentu tidak dapat dianggap melanggar kaidah-kaidah perdagangan. Oleh karena itu, hal tersebut tidak mengandung keserakahan.

Cara memperoleh laba abnormal bersangkutan dengan metode perdagangan yang diterapkan termasuk cara memperoleh pelanggan dan memenuhi pesanan pembelian. Jika produk yang dijual harus melalui proses produksi, proses perdagangan akan mencakup input-proses-output. Caracara yang benar dalam menghasilkan dan menjual produk menunjukkan tidak adanya keserakahan dalam bisnis. Cakupan yang jelas dan tegas tentang siapa yang sumber daya ekonomisnya akan dialihkan, dirugikan, atau dipengaruhi, juga mash merupakan hal yang perlu dielaborasi.

Konsep stakeholder, seperti yang telah diuraikan di awal, merupakan upaya untuk menjabarkan pihak-pibak yang dianggap berkepentingan terhadap perusahaan. Kepentingan dalam hal ini berkaitan dengan pengalihan sumber daya ekonomis atau kergian yang ditimbulkan akibat keberadaan perusahaan. Proteksi terhadap kepentingan para pihak tersebut dengan sendirinya dapat melepaskan tuduhan keserakahan bagi perusahaan.

Uraian tersebut menyimpulkan bahwa laba (baik normal maupun abnormal) bukan momok yang dapat digunakan untuk memberikan stigma serakah terhadap perusahaan. Laba tetap merupakan hak yang sah bagi seseorang yang berani mengambil risiko dengan melakukan usaha.

Keserakahan lebih mengacu pada cara untuk memperoleh laba tersebut dan perlakuan yang tidak adil (merugikan) terhadap pihak-pihak yang berkepentingan terhadap usaha. Cara curang dan pengabaian terhadap hak orang lain adalah ciri keserakahan, bukan ciri laba.

*Disclaimer*

Sumber: Soemarso S.R (2018). Etika dalam Bisnis & Profesi Akuntan dan Tata Kelola Perusahan.

Recent Posts

Menkeu Ungkap Modus Underinvoicing, Negara Kehilangan Potensi Penerimaan Besar

IBX-Jakarta. Pemerintah bersiap memperketat pengawasan terhadap praktik underinvoicing yang selama ini menjadi sumber kebocoran penerimaan negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa manipulasi nilai transaksi ekspor-impor tidak bisa lagi dibiarkan, terutama ketika ruang defisit fiskal semakin sempit dan mendekati batas 3% dari produk domestik bruto (PDB). Hingga akhir Desember

Read More »

Kasus Suap Pajak yang Berulang dan Tantangan Reformasi Perpajakan

IBX – Jakarta. Tekanan terhadap penerimaan negara semakin besar, tetapi masalah lama di tubuh otoritas pajak kembali muncul ke permukaan. Rasio penerimaan pajak terhadap PDB yang hanya berada di kisaran 8,2% pada 2025 menjadi pengingat bahwa ruang fiskal Indonesia sedang tidak dalam kondisi ideal. Di tengah situasi itu, publik kembali

Read More »

Korupsi Oknum Pajak Berulang, Reformasi Internal Dinilai Mendesak

IBX – Jakarta. Kasus korupsi kembali mencuat dan lagi-lagi melibatkan pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan. Peristiwa ini memperkuat pandangan bahwa masalah integritas aparatur pajak masih menjadi tantangan besar yang belum sepenuhnya terselesaikan oleh pemerintah. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai

Read More »