IBX – Jakarta. Kerja sama dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat membuka babak baru hubungan ekonomi kedua negara, namun di saat yang sama memunculkan perdebatan mengenai dampaknya terhadap ketahanan energi dan ruang fiskal nasional.
Dalam dokumen Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance yang disahkan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump, Indonesia menyetujui peningkatan pembelian komoditas energi dari AS dengan nilai mencapai 15 miliar dollar AS. Komoditas tersebut mencakup gas alam cair (LNG), LPG, minyak mentah, serta produk bahan bakar hasil kilang.
Kesepakatan ini merupakan bagian dari paket negosiasi tarif yang lebih luas. Pemerintah Indonesia memperoleh penurunan tarif masuk untuk sejumlah produk ekspor ke pasar AS, termasuk komoditas unggulan seperti sawit, kopi, dan kakao. Sebaliknya, Indonesia memberikan akses tarif preferensial yang sangat luas bagi produk-produk asal AS.
Di tengah manfaat akses pasar tersebut, sejumlah kalangan menilai langkah memperbesar porsi pembelian energi dari AS perlu dikaji cermat. Institute for Essential Services Reform menyoroti potensi kenaikan biaya impor apabila harga pasokan dari AS lebih tinggi dibandingkan sumber sebelumnya. Kenaikan harga, meski dalam persentase terbatas, dinilai dapat berdampak signifikan mengingat besarnya volume impor energi nasional.
Struktur konsumsi energi domestik saat ini masih menunjukkan ketergantungan tinggi pada LPG impor. Dengan kebutuhan jutaan ton per tahun, perubahan harga acuan internasional maupun fluktuasi nilai tukar rupiah berpotensi langsung memengaruhi beban subsidi dalam APBN.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah volume impor, melainkan mengatur ulang asal pasokan guna mendukung keseimbangan perdagangan kedua negara. Pemerintah juga menyatakan implementasi teknis kerja sama akan disiapkan dalam beberapa bulan ke depan dengan mempertimbangkan aspek keekonomian.
Analis menilai tantangan utama ke depan terletak pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara manfaat diplomasi perdagangan dan keberlanjutan fiskal. Selain itu, arah kebijakan ini juga dinilai akan memengaruhi strategi jangka panjang Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Dengan dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian harga energi dan geopolitik, efektivitas kesepakatan ini akan sangat bergantung pada detail implementasi, skema kontrak pembelian, serta strategi pengelolaan subsidi dan diversifikasi energi nasional.
sumber : Impor Komoditas Energi 15 Miliar Dollar AS, Beban Baru bagi Keuangan Negara


