Intercounbix

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Alasan Dibalik Turunnya Rasio Pajak di Semester I/2025, Meskipun Pertumbuhan PDB Naik

IBX – Jakarta. Rasio Pajak di semester I/2025 mengalami penurunan sebesar 1,07% jika dibandingkan dengan realisasi rasio pajak yang tercatat pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), produk domestic bruto (PDB) atas dasar harga erlaku pada semester I/2025 tercatat sebesar Rp11.612,9 tirilun. Dari sisi fiscal, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp978,3 tirilun, yang tediri atas Rp831,3 triliun dari pajak dan Rp147 triliun dari kepabeanan serta cukai.

Penghitungan Rasio Pajak

Dengan menggunakan rumus rasio pajak, yaitu:

(total penerimaan perpajakan / PDB) x 100%

Maka, angka tersebut setara dengan:

(Rp978,3 triliun / Rp11.612,9 triliun) x 100% = 8,42%

Capaian ini turun dibandingkan semester I/2024 yang berada di level 9,49%. Pada periode yang sama tahun lalu, penerimaan perpajakan mencapai Rp1.028,04 triliun dengan PDB sebesar Rp10.825 triliun.

Rasio pajak 8,42% pada paruh pertama 2025 tersebut masih terpaut jauh dari target tahunan sebesar 10,24%. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya telah memproyeksikan realisasi rasio pajak 2025 hanya akan mencapai 10,03%, atau di bawah target.

Penjelasan Fenomena yang Terjadi

Penurunan rasio pajak pada semester I/2025 terjadi di tengah meningkatnya pertumbuhan eknomi. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II/2025 mencapai 5,12%, lebih tinggi 0,07% dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun Staf Ahli Bidang Kepatuhan Pajak Kementerian Keuangan, Yon Arsal, menilai tidak ada kejanggalan ketika rasio pajak turun saat ekonomi tumbuh, “Tidak semua penerimaan pajak kita itu langsung berhubungan dengan PDB pada saat yang bersangkutan, “ ujarnya dalam sebuah diskusi di Kantor Celios, Jakarta, rabu (13/8/2025).

Yon menjelaskan, penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) memang dapat mencerminkan kondisi ekonomi secara langsung berkat adanya mekanisme kredit pajak. Namun, hal berbeda terjadi pada Pajak Penghasilan (PPh) Badan maupun PPh Orang Pribadi. Angsuran pajak yang dibayar tahun ini, kata dia, merupakan refleksi dari kinerja perusahaan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, PDB dan PPN biasanya bergerak di periode yang sama, sedangkan PPh Badan cenderung baru tercermin di periode berikutnya.

Sumber: Rasio Pajak Turun ke 8,42% Semester I/2025, Padahal Pertumbuhan Ekonomi Naik

Recent Posts

Mobil listrik berpotensi menjadi pendorong baru bagi pertumbuhan industri otomotif. Prospek penjualannya diperkirakan akan semakin meningkat, terutama setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi yang membuat konsumen mulai beralih ke alternatif yang lebih efisien. Selain itu, perbedaan harga antara kendaraan listrik dan mobil berbahan bakar konvensional (ICE) kini semakin tipis, sehingga lebih

Read More »

Optimalisasi Penerimaan Negara melalui Penguatan Pajak High Wealth Individual dalam Rencana Strategis DJP 2025–2029

IBX – Jakarta. Melalui pengesahan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pajak (DJP) 2025–2029 yang tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-252/PJ/2025, Pemerintah Indonesia secara formal mempertegas komitmennya dalam mengoptimalkan penerimaan negara melalui penguatan basis pajak kelompok High Wealth Individual (HWI). Kebijakan ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian target fiskal secara

Read More »