IBX-Jakarta. Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap Kanada, Meksiko, dan China, efektif mulai Sabtu, 1 Februari 2025. Kebijakan ini mencakup tarif sebesar 25% untuk barang dari Kanada dan Meksiko serta tarif 10% untuk impor dari China.
Gedung Putih mengonfirmasi kebijakan ini pada Jumat (31/1/2025), tetapi belum memberikan kepastian mengenai kemungkinan pengecualian yang dapat menghindarkan kenaikan harga bagi konsumen di Amerika Serikat. Trump sebelumnya mengancam untuk menerapkan tarif guna meningkatkan kerja sama dalam menangani imigrasi ilegal dan penyelundupan bahan kimia fentanil. Selain itu, tarif ini juga diklaim sebagai upaya untuk memperkuat industri manufaktur dalam negeri.
Presiden Trump menyatakan bahwa ia tengah mempertimbangkan pengecualian untuk impor minyak dari Kanada dan Meksiko, meskipun keputusan resmi terkait hal ini belum diumumkan. Data menunjukkan bahwa pada Oktober lalu, Amerika Serikat mengimpor sekitar 4,6 juta barel minyak per hari dari Kanada dan 563.000 barel dari Meksiko.
Selain itu, tarif tambahan sebesar 10% terhadap produk dari China akan diterapkan sebagai bagian dari kebijakan impor AS yang lebih luas. Langkah ini dilakukan tak lama setelah Trump kembali menjabat sebagai Presiden pada 20 Januari 2025. Tarif untuk barang energi dari Kanada ditetapkan lebih rendah, yakni sebesar 10%.
Trump menegaskan bahwa kebijakan tarif ini merupakan respons terhadap kekhawatiran atas imigrasi ilegal dan perdagangan narkoba, dua isu utama dalam kampanyenya. “Pengumuman tarif ini diperlukan untuk meminta pertanggungjawaban China, Meksiko, dan Kanada atas janji mereka dalam menghentikan masuknya obat-obatan berbahaya ke AS,” demikian pernyataan Gedung Putih pada Sabtu (1/2/2025), yang dikutip dari BBC.
Melalui platform Truth Social, Trump menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) untuk mengatasi ancaman besar dari imigrasi ilegal dan peredaran narkoba yang membahayakan warga AS, termasuk fentanil. Secara keseluruhan, ketiga negara—China, Meksiko, dan Kanada—menyumbang lebih dari 40% impor ke AS pada tahun sebelumnya.
Kanada dan Meksiko memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Amerika Serikat. Diperkirakan barang-barang manufaktur senilai 2 miliar dolar AS melintasi perbatasan AS setiap harinya dari kedua negara tersebut. Pengenaan tarif ini berpotensi memicu pembalasan dari negara-negara yang terkena dampak, yang dapat memperburuk situasi perdagangan global.
Menanggapi kebijakan ini, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menginstruksikan menteri ekonominya untuk merespons dengan tindakan tarif dan non-tarif. Pemerintah Meksiko diperkirakan akan menerapkan tarif balasan sebesar 25% terhadap produk dari AS. Selain itu, Sheinbaum juga mendesak AS untuk lebih aktif dalam menghentikan aliran senjata ilegal ke Meksiko, yang sering digunakan oleh kartel narkoba. “Kami siap bekerja sama dengan AS, tetapi masalah ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan tarif. Perundingan adalah kunci utama,” ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyatakan bahwa negaranya akan mengambil langkah serupa dengan mengenakan tarif balasan sebesar 25% terhadap barang-barang asal AS. Komoditas yang akan dikenakan tarif ini mencakup bir, anggur, bourbon, buah-buahan, sayuran, parfum, pakaian, sepatu, peralatan rumah tangga, barang olahraga, furnitur, kayu, dan plastik. “Kami tidak menginginkan situasi ini, tetapi kami tidak akan mundur dalam membela kepentingan warga Kanada,” tegas Trudeau dalam konferensi pers pada Sabtu malam.
Di pihak lain, China menyatakan ketidakpuasan dan keberatan terhadap tarif yang diberlakukan oleh AS. Beijing juga mengumumkan akan mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kebijakan yang dinilai tidak adil tersebut. “Perang dagang dan tarif tidak memiliki pemenang,” ujar perwakilan Kedutaan Besar China di Washington.
Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang menyampaikan bahwa negaranya tengah mencari solusi “win-win” untuk menyelesaikan ketegangan perdagangan dengan AS. Namun, dengan kebijakan tarif baru ini, ketegangan dalam hubungan dagang antara negara-negara besar tampaknya akan semakin meningkat dalam waktu dekat.
Sumber: CNBC Indonesia


