Intercounbix

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Penurunan Rupiah Terhadap USD Masih Terbilang Terkendali Mengapa Demikian ?

IBX-Jakarta. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan sebesar 0,84% pada bulan November 2024. Penurunan ini disebabkan oleh penguatan Dolar AS yang terjadi secara luas di pasar global. Meskipun Rupiah melemah, pergerakan ini masih dianggap terkendali jika dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan Asia, seperti Dolar Taiwan, Peso Filipina, dan Won Korea, yang masing-masing mengalami depresiasi lebih besar.

Nilai depresi mata uang Taiwan, Peso Filipina, dan Won Korea terhadap USD dapat dilihat dari data terkini berikut:

Taiwan Dollar (TWD): Data tersedia dari bulan Oktober 2024 menunjukkan bahwa Taiwan dollar telah mengalami depresi sebesar 5,26% terhadap dolar AS dalam periode 90 hari terakhir.

Filipino Peso (PHP): Filipina peso juga mengalami depresi signifikan, dengan perubahan nilai tukar sebesar 5,83% terhadap dolar AS dalam periode sama.

Won Korea (KRW): Won Korea telah mengalami depresi sebesar 7,53% terhadap dolar AS dalam periode 90 hari terakhir

Faktor Penyebab Melemahnya Rupiah

1. Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia : Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6,00%. Keputusan ini diambil untuk menjaga inflasi dalam batas yang ditetapkan dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Namun, hal ini juga berkontribusi pada sentimen pasar yang negatif terhadap Rupiah.

2. Defisit Transaksi Berjalan : Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan sebesar US$2,2 miliar pada kuartal III 2024. Ini menjadi defisit keenam berturut-turut dan memberikan dampak negatif pada nilai tukar Rupiah.

3. Sentimen Global : Pasar global saat ini menunjukkan ketidakpastian terkait kebijakan moneter AS, terutama menjelang pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Ekspektasi investor terhadap pemangkasan suku bunga AS yang lebih kecil dari yang diperkirakan juga mempengaruhi aliran modal dan nilai tukar.

Meskipun ada tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, para analis memperkirakan bahwa pelemahan ini tidak akan berlangsung lama. BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen moneter dan strategi operasi pasar yang proaktif. Dengan inflasi yang terjaga dan prospek pertumbuhan ekonomi yang positif, diharapkan Rupiah dapat kembali stabil dalam waktu dekat.

Secara keseluruhan, meskipun Rupiah melemah terhadap Dolar AS pada November 2024, kondisi ini masih dalam batas wajar dan terkendali dibandingkan dengan mata uang regional lainnya. Kebijakan moneter yang hati-hati dan perhatian terhadap kondisi ekonomi global akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah ke depan.

**Disclaimer**

Recent Posts

Otoritas Italia Investigasi Pajak Penghasilan Pembalap Formula 1 

IBX – Jakarta. Formula 1, sebuah salah satu ajang balapan olahraga dengan nilai bisnis miliaran dolar di investigasi terkait potensi tunggakan pajak di Italia yang belum dibayarkan. Sirkuit Italia rutin ada pada kalender  F1 setiap tahunnya, seperti Monza dan Imola. Otoritas pajak Italia melalui Guardia di Finanza sedang melakukan investigasi

Read More »

Isu Baru: Pemerintah Pertimbangkan Pajak Kendaraan Listrik

Mobil listrik berpotensi menjadi pendorong baru bagi pertumbuhan industri otomotif. Prospek penjualannya diperkirakan akan semakin meningkat, terutama setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi yang membuat konsumen mulai beralih ke alternatif yang lebih efisien. Selain itu, perbedaan harga antara kendaraan listrik dan mobil berbahan bakar konvensional (ICE) kini semakin tipis, sehingga lebih

Read More »

Optimalisasi Penerimaan Negara melalui Penguatan Pajak High Wealth Individual dalam Rencana Strategis DJP 2025–2029

IBX – Jakarta. Melalui pengesahan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pajak (DJP) 2025–2029 yang tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-252/PJ/2025, Pemerintah Indonesia secara formal mempertegas komitmennya dalam mengoptimalkan penerimaan negara melalui penguatan basis pajak kelompok High Wealth Individual (HWI). Kebijakan ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian target fiskal secara

Read More »