Intercounbix

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Perlakuan PPN atas Pembelian Batubara

Perlakuan PPN atas Pembelian Batubara

Pertanyaan:

Perkenakan saya Budi ijin bertanya sebagai berikut:

Perusahaaan kami PT MB yang berlokasi di Kalimantan Selatan bergerak dalam bidang perdagangan batubara. Pada tahun 2021 kami melakukan ekspor batubara, dimana pada saat pembelian batubara dari perusahaan dalam negeri, kami dipungut PPN oleh penjual PT MA. Pertanyaan kami apakah PPN yang kami bayar melalui pemungutan oleh penjual dapat direstitusi. Mohon pencerahannya karena menurut partner kami, PPN yang sudah dibayar tersebut tidak dapat diminta kembali.

 Jawaban:

Oleh: Maskudin

Terima kasih Bapak Budi atas pertanyaannya.

Kewajiban pemungutan PPN oleh perusahaan batubara sebelum berlakunya UU Cipta Kerja tidak diwajibkan. Namun sejak berlakunya UU Cipta Kerja yang mengubah Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah mengatur bahwa Batubara tidak termasuk barang yang dikecualikan dari pemungutan PPN.

Pasal 112 Undang-undang Cipta Kerja yang mengubah UU No. 42 tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU No.8 tahun 1983 mengatur hal tersebut. Dalam pasal 4A (2) dijelaskan menjelaskan bahwa jenis barang yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai adalah barang tertentu dalam kelompok barang sebagai berikut:

a. barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya, tidak termasuk hasil pertambangan batu bara;
b. barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak;
c. makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha
jasa boga atau katering; dan
d. uang, emas batangan, dan surat berharga.

Undang-undang Cipta Kerja mulai berlaku sejak 2 November 2020. Dengan demikian penyerahan batubara harus dipungut PPN sejak tanggal 2 November 2020 tersebut.

Mengacu pada pertanyaan diatas maka PT MA selaku penjual batubara harus bersatus Pengusaha Kena Pajak dan pada saat menyerahkan batubara harus memungut PPN. PT MB selaku pembeli batubara harus membayar PPN atas pembelian batubara tersebut dan dilaporkan sebagai PPN Masukan dalam SPT Masa PPN PT MB tahun 2021. PPN Masukan yang telah dibayarkan oleh PT MB dapat dimintakan kembali oleh PT MB dengan mekanisme pengajuan restitusi. Namun sebelumnya akan dilakukan pemeriksaan oleh KPP dimana PT MA terdaftar dan KPP akan mengeluarkan produk SKPLB (Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar) jika dari hasil pemeriksaan tidak ada koreksi dari KPP. Jumlah yang dimintakan kembali adalah sebesar 100% dari seluruh jumlah PPN Masukan yang dibayarkan PT MB karena tidak ada pajak keluaran yang dipungut oleh PT MB yang seluruh penjualannya adalah ekspor yang dikenakan tarif 0%.

Demikian pendapat kami semoga mencerahkan.

*Disclaimer*

Recent Posts

Pemerintah Siap Terapkan PPh Pasal 22 pada Transaksi Marketplace Mulai Juli 2026

IBX – Jakarta. Pemerintah Indonesia dijadwalkan mulai menerapkan kebijakan penunjukan penyedia marketplace sebagai pemungut Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 atas penghasilan yang diperoleh pedagang online dalam negeri mulai tanggal 1 Juli 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa langkah ini bukanlah pemberlakuan pajak baru. Kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan

Read More »

Optimalisasi Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak, Kini DJP Mengintegrasikan Coretax dengan Data Konsumsi Listrik

IBX – Jakarta. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan terus memperkuat kapabilitas pengawasan perpajakan melalui integrasi Core Tax Administration System (Coretax) dengan berbagai sistem informasi milik institusi eksternal. Saat ini, sistem administrasi perpajakan tersebut telah terhubung secara komprehensif dengan basis data pelanggan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor

Read More »

Purbaya Tegaskan Patriot Bond Tak Sama dengan Tax Amnesty

IBX – Jakarta. Ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 yang memberikan perlindungan dari tuntutan pidana, perpajakan, dan gugatan perdata bagi investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond memicu kekhawatiran di tengah publik. Pasalnya, data dan informasi yang bersumber dari pembelian instrumen tersebut juga tidak dapat dijadikan dasar pengenaan pajak

Read More »