Intercounbix

Shaping a sustainable future

Transfer Pricing | Accounting | Tax | Business Advisory

Tax Amnesty Jilid III, Solusi Fiskal Logis atau Sekadar Ilusi Reformasi?

IBX – Jakarta. Memasuki 2025, publik dikejutkan oleh rencana Tax Amnesty Jilid III yang secara resmi dicantumkan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2025. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Budi Gunawan, menyatakan bahwa pemerintah melalui Kemenko Perekonomian dan Kementerian Keuangan sedang merancang skema ini sebagai langkah untuk menarik kembali aset dan devisa, khususnya yang terkait dugaan kasus korupsi besar.

Secara fiskal, wacana ini muncul di tengah menurunnya angka penerimaan pajak. Data terbaru menunjukkan penerimaan pajak per April 2025 hanya mencapai Rp 557,1 triliun, turun sekitar 10,74% dari periode yang sama pada 2024 yang sebesar Rp 624,19 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa angka tersebut baru mencakup 25,4% dari target APBN 2025 sebesar Rp 2.189,3 triliun, membuat tekanan fiskal menjadi sangat nyata.

Pendukung program ini melihat Tax Amnesty Jilid III sebagai opsi strategis untuk memperbaiki likuiditas negara. Mereka juga menyoroti kehadiran sistem administrasi pajak digital terbaru “Coretax” yang diluncurkan awal 2025, sebagai fondasi potensial untuk memperkuat basis data dan kepatuhan pajak dalam jangka panjang. Dalam kondisi ekonomi global yang tak menentu, fleksibilitas fiskal semacam ini dianggap sebagai respons pragmatis untuk mendorong repatriasi aset, memperkuat likuiditas domestik, serta membuka jalan reformasi struktural perpajakan.

IKPI (Ikatan Konsultan Pajak Indonesia) menekankan bahwa Tax Amnesty harus dijadikan momentum reformasi, bukan sekadar alat fiskal sementara. Mereka menyampaikan enam rekomendasi strategis:

  1. Dorong kepatuhan sukarela melalui sistem pemeriksaan yang jelas.
  2. Reformasi kelembagaan, termasuk pembentukan Badan Penerimaan Negara (BPN).
  3. Kuatkan infrastruktur pelaporan aset dan mekanisme kepatuhan.
  4. Hindari pelaksanaan Tax Amnesty dalam waktu dekat untuk menjaga kredibilitas sistem.
  5. Jadikan amnesti pajak sebagai fondasi reformasi perpajakan jangka panjang.
  6. Tegakkan sanksi dan pemeriksaan pasca-program secara tegas

Sumber: Ikatan Konsultan Pajak

Recent Posts

Implikasi PMK Nomor 44 Tahun 2026 terhadap Karyawan Perusahan

IBX – Jakarta. Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 44/2026 yang mencabut PMK 229/2014, Kementerian Keuangan membatasi kategori kuasa Wajib Pajak menjadi Konsultan Pajak, Keluarga, dan Pihak Lain, di mana karyawan internal kini terklasifikasi sebagai Pihak Lain yang wajib memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT) khusus kuasa untuk dapat mewakili perusahaan dalam

Read More »

Benarkah Pajak E-Commerce Baru Dipungut 2027? Ini Kata Purbaya

Pemerintah kembali menunda penerapan kebijakan pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 bagi pedagang online melalui platform e-commerce. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kebijakan tersebut baru akan diterapkan pada tahun depan, dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian Indonesia. Kebijakan yang mengatur penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh Pasal 22 tersebut sebelumnya dijadwalkan mulai

Read More »

Rencana Pajak Perhiasaan Berat Tertentu untuk Meminimalisir Praktik Penghindaran Bea Keluar Emas

IBX – Jakarta. Pemerintah mengungkap, bahwa terdapat praktik penghindaran pajak dalam skema ekspor emas dalam bentuk perhiasan. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sedang memperketat Peraturan Menteri Keuangan terkait agar menutup celah yang dimanfaatkan melalui mengubah bentuk ekspor emas menjadi perhiasan Perubahan tersebut direncanakan melalui skema pengenaan pajak untuk perhiasaan dengan

Read More »